Sunday, July 7, 2013

Field Research

PENINGGALAN ISLAM
DAN
KEPURBAKALAAN PENINGGALAN BUDHA

I.         PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya memiliki banyak peninggalan sejarah. Diantaranya ialah peninggalan budaya Budha dan Islam di pulau Jawa. Bukti peninggalan budaya tersebut dapat berupa Candi Budha, patung-patung, Masjid dan lainnya. Akan tetapi di zaman post modern ini tidak sedikit masyarakat Jawa yang tidak tahu peninggalan sejarah kebudayaannya. Terutama para kaum muda yang kurang mencintai situs-situs peninggalan sejarah.
Padahal sebagai orang Jawa juga kita wajib untuk mengetahui sejarah peninggalan tersebut. Bagaimana filosofi suatu situs peninggalan sejarah dan perkembangannya. Kita juga harus bisa menjaga situs peninggalan sejarah agar tetap terjaga kelestariannya. Bahkan juga harus bisa memperkenalkan situs peninggalan sejarah ke ranah Internasional.

II.      RUMUSAN MASALAH
A.  Apa saja Situs Peninggalan Islam Jawa yang ada di Museum Ronggowarsito?
B.  Apa saja Situs Peninggalan Budha yang ada di Museum Ronggowarsito?

III.   HASIL PENGAMATAN di MUSEUM RONGGOWARSITO
A.       Situs Peninggalan Islam Jawa yang ada di Museum Ronggowarsito
1.    Menara Masjid Kudus













Menara ini berada satu komplek dengan Masjid Kudus yang terletak di depan sisi kanan Masjid. Arsitekturnya mengacu pada bangunan Pura (seperti di Bali). Tinggi menara Masjid 18 Meter. Menara didirikan bersamaan dengan Masjid Kudus pada abad ke XVI M. Masjid Kudus terletak di Desa Kauman, Kabupaten Kudus.
2.    Mimbar Masjid Ki Ageng Selo
Adanya mimbar ini adalah sebagai wujud dari rasa penghormatan terhadap leluhurnya. Kraton Surakarta telah membangun masjid dan memberi mimbar Khotbah di kompleks pemakaman Ki Ageng Selo. Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah prasasti bertuliskan Arab pegon sekitar abad ke 17. Lambang kebesaran Kraton Surakarta terukir pada di bagian atas mimbar. Mimbar ini dipakai oleh Khotib ketika membacakan Khotbah. Mimbar Masjid Ki Ageng Selo berasal dari Grobogan.

B.       Situs Peninggalan Budha yang ada di Museum Ronggowarsito
1.    Kerajaan Mataram dan Candi Borobudur
Asumsi terdahulu menyebutkan bahwa longsornya Merapi dan letusannya yang menyebabkan perpindahan Kerajaan Hindu Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Lobberton (1992) dan Bemmelen (1949) juga berasumsi bahwa letusan tahun 1006 telah mengakibatkan perpindahan Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur. Lebih lanjut Bemmelen (1949) menghubungkan letusan tersebut dengan runtuhnya bagian puncak Merapi ke arah barat. Dijelaskan bahwa letusan besar tahun 1006 terjadi akibat pergerakan tektonik sepanjang jalur transversal yang menjadi dasar deretan Gunung Api Ungaran – Merapi.
Diperkirakan gempa menyertai pergerakan tersebut dan merusak sebagian Candi Borobudur dan Mendut yang dibangun pada abad ke-9, aktivitas tektonik ini diikuti dengan terjadinya longsoran Merapi dan letusan besar yang produk letusannya diperkirakan menutup candi-candi tersebut, merusak Kerajaan Mataram Hindu Kuno di Jawa Tengah, dan membendung aliran Kali Progo. Longsoran tersebut membentuk Perbukitan Gandol yang terletak di bagian barat Merapi. 
2.    Image1439.jpgReplika Candi Borobudur













Image1455.jpg
 



















3.    Kemuncak Candi
Puncak mastaka atau kemuncak candi merupakan bagian atap candi yang paling atas. Bentuk kemencak berbagai macam, seperti bunga/ratna, stupa maupun modifikasi vajra/kilat/halilintar.
4.    Arca Budha
a.       Dhyani Budha Vajrasatwa
Digambarkan duduk di atas alas berbentuk padma di atas bangku tanpa sandaran dengan ke empat sudutnya ditopang arca singa. Istimewa: ada pada bagian belakang tempat duduk arca yang terdapat prasasti dengan huruf dan bahasa sansekerta.
b.      Dhyani Budha Vairosyana
Digambarkan dengan Budha duduk bersila dengan sikap tangan mengajar (tiga jari) atau sikap vitar kamudra.
c.       Dhyani Budha Amogashidi
Digambarkan dengan Budha duduk bersila dengan sikap tangan menentramkan (empat jari) atau sikap abhayamudra.
d.      Dhyani Budha Amitabha
Digambarkan dengan Budha bersila dengan tangan bersemedi atau dhyanamudra.
e.       Dhyani Budha Ratnasambhawa
Digambarkan dengan Budha bersila dengan tangan memberi anugerah atau varamudra.
f.       Dhyani Budha Aksobhya
Digambarkan dengan Budha dengan sikap tangan menyinggung tanah atau bhumi sparsyamudra








Image1458.jpg
 









                                                                           








Image1466.jpg
 






                                                                        










Image1468.jpg,Image1472.jpg
 
















Image1473.jpg              Dhyani Budha Amogasidhi                                    Dhyani Budha Amitabha
















                                                  Dhyani Budha Ratnasambhawa

IV.   ANALISIS BUDAYA JAWA
Budaya Jawa merupakan budaya yang sangat unik dan menarik untuk dikaji. Mengapa demikian ? Karena budaya Jawa lahir dan terbentuk dari berbagai ranah. Dari sudut agama, budaya jawa lahir dari berbagai agama yang ada di Indonesia hingga saat ini, antara lain, Islam, budha dan hindu. Telah kita ketahui bersama bahwa agama-agama tersebut tidak berasal dari Jawa. Melainkan dari negara-negara seperti India dan Arab. Sehingga budaya-budaya yang ada dalam negara-negara tersebut secara otomatis mengalir dalam budaya Jawa seiring berjalannya waktu.  Pengaruh budaya tersebut dapat dilihat dengan berbagai aspek. Seperti bangunan arsitektur ( miniatur masjid, prasasti, candi, makam ) ataupun bahasa yang sedikit tidaknya terpengaruh karena perpaduan itu. Tentunya, perpaduan budaya ini akan lebih terspesifikasi dalam budaya Jawa.
Budaya jawa yang sangat beragam ini merupakan aset bangsa yang sangat penting. Karena pada hakikatnya budaya jawa memiliki ciri khas tersendiri dari budaya lain yang ada di Indonesia.


V.      KESIMPULAN

Berbagai miniatur situs peninggalan sejarah Budha dan Islam di jawa tentunya untuk membuat masyarakat, Jawa khususnya mengetahui tentang sejarah budayanya. Tujuan lain yaitu agar mereka mencintai budaya jawa dan bisa bersikap saling toleran.

Thursday, April 25, 2013

MAKALAH ISLAM DAN KEBUDAYAAN JAWA (KEBUDAYAAN JAWA MASA HINDU-BUDHA)



KEBUDAYAAN JAWA MASA HINDU-BUDHA

I.       PENDAHULUAN
Masyarakat Jawa atau tepatnya suku bangsa Jawa, secara antropologi budaya adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai ragam dialeknya secara turun temurun.[1]
Dan sebagai masyarakat jawa yang penuh dengan nilai religi dan budaya sudah seharusnya kita mengetahui pasti tentang kebudayaan yang ada di pulau Jawa. Berbagai budaya yang menarik perlu kita budayakan. Salah satu contoh budaya yang masih sering orang jawa pertahankan adalah sekaten. Di zaman modern sekarang ini masih juga kita lihat berbagai budaya pada zaman hindu budha yang kirannya masih bertahan. Islam memang sudah lama masuk ke pulau Jawa. Akan tetapi budaya Hindu Budha nampaknya masih melekat erat pada masyarakat jawa.
Misalnya saja budaya sedekah bumi sebagai perwujudan syukur atas rizki yang telah diberikan. Atau juga sedekah yang orang jawa bilang dengan istilah bancaan ketika ingin menanam berbagai jenis tanaman di ladang mereka.
Kebudayaan Hindu Budha yang sekarang masih melekat pada masyarakat jawa tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Masuknya Hindu Budha ke pulau Jawa  juga mengalami proses dan sejarah panjang. Dimana tadinya masyarakat Jawa yang masih berkepercayaan animisme dinamisme, mulai beralih ke agama Hindu Budha.
Agama Hindu Budha itu sendiri merupakan agama yang berasal dari Negara India. Agama hindu mempercayai dewa sebagai pengatur kehidupan. Ada tiga dewa besar dalam agama hindu, yaitu Brahmana, Wisnu dan Siwa. Dewa Brahmana sebagai pencipta, Dewa Wisnu pelindung dan Dewa Siwa perusak. Kitab suci agama Hindu ialah weda. Sedangkan agama Budha pertama diajarkan oleh Shidarta Gautama. Yang mana kitab sucinya adalah tripitaka.
Itulah sekilas mengenai masyarakat Jawa, dan juga agama Hindu Budha. Untuk lebih lanjutnya tentang bagaimana sejarah masuknya agama Hindu Budha dan kondisi masyarakat masa itu akan dibahas pada makalah ini.
II.    RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana Sejarah Masuknya Hindu yang Pertama di Jawa?
B.     Bagaimana Kepercayaan Jawa pada Masa Hindu Budha?
C.     Bagaimana Kebudayaan Jawa pada Masa Hindu Budha?
D.    Bagaimana Keagamaan Orang Jawa pada Zaman Hindu-Budha?
III. PEMBAHASAN MASALAH
A.    Sejarah Masuknya Hindu yang Pertama di Jawa
Sejarah mencatat bahwa di Jawa pernah mengalami “mutasi pertama” atau lebih tepatnya disebut indianisasi. Sebenarnya kemungkinan adanya pengaruh India tidak pernah terdeteksi oleh para peneliti Eropa sebelum awal abad ke-19. Raffles mengangkat indianisasi menjadi topik yang menarik dengan mengaitkan antara Jawa dan India. Gagasan Indianisasi ini dilanjutkan oleh para peneliti Belanda yang lain, yaitu J. L. A. Brandes (1957-1905), H. Kern (1833-1917), N. j. Krom (1883-1945), dan W. F. Stutterheim (1892-1942). Mereka berjasa dalam menginterpretasikan masa lampau Jawa berdasarkan pengetahuan tentang India kuno. Sekarang perlu dipertanyakan apakah tradisi Jawa masih menyimpan bekas-bekas persentuhan dengan Hindu atau India. Terdapat paling sedikit tiga petunjuk untuk menapresiasi bagaimana persentuhan budaya tersebut, yang telah meresap dalam mentalitas masyarakat Jawa.
Pertama, asal-usul suku bangsa Jawa yang dijelaskan oleh C. C. Berg dalam bentuk legenda tentang seorang bernama Aji Saka. Ia dikisahkan sebagai seorang muda putra Brahmana yang berasal dari tanah India. Aji Saka datang di tanah Jawa, dan mendapatkan sebuah negeri dengan nama Medangkamulan, yang kini berada di daerah Grobogan, Purwodadi. Negeri ini dikuasai oleh seorang raja pemakan daging manusia yang bernama Dewatacengkar. Aji Saka menawarkan diri menjadi makanan raja dengan syarat ia akan menerima satu bidang tanah seluas destarnya sebagai ganti. Si pemakan daging manusia alias Dewatacengkar menerima syarat ini dengan senang hati, tetapi ia terkejut karena destar milik Aji Saka semakin lama semakin lebar, bahkan akhirnya menutupi seluruh wilayah kerajaannya. Ia menerima kekalahannya dengan mengundurkan diri, serta menyerahkan kekuasaannya kepada Aji Saka pada tahun 78 Masehi.
Menurut C. C. Berg legenda di atas menjadi simbolisme atau lambang yang dipergunakan oleh nenek moyang orang jawa untuk memudahkan ingatan perhitungan awal tarikh Jawa, yaitu tarikh Saka. Hitungan ini diawali dengan runtuhnya kepercayaan animisme karena masuknya pengaruh Hindu di Jawa. Demikian pula syair tentang kematian dua orang pengiring Aji Saka, menjadi suatu simbolisme yang mempermudah ingatan terhadap susunan abjad Jawa.
Kedua, penafsiran indianisasi yang lain, yang kurang bersifat historis diberikan dalam naskah Jawa abad 16, Tantu Panggelaran yang merupakan sejenis buku petunjuk pertapaan-pertapaan Hindu di Jawa. Tulisan itu menjelaskan tentang asal mula Bhatara Guru (siwa) yang pergi ke Gunung Dieng untuk bersemedi dan meminta kepada Brahma dan Wisnu supaya Pulau Jawa diberi penghuni. Brahma menciptakan kaum lelaki dan Wisnu kaum perempuan, lalu semua dewa memutuskan untuk menetap di bumi baru kemudian memindahkan Gunung Meru yang sampai saat itu terletak di Negeri Jambudvipa atau di India. Sejak saat itu gunung tinggi yang menjadi lingga dunia (pinkalalingganingbhuwana) atau pusat dunia itu tertanam di Jawa dan pulau Jawa menjadi kesayangan dewata.
Ketiga, sebagai kelanjutan dari teori mutasi perlu dicatat bahwa banyak nama tempat di pulau Jawa yang berasal dari bahasa Sanskerta, yang membuktikan adanya kehendak untuk menciptakan kembali geografi India yang dianggap keramat itu. Bukan hanya gunung-gunungnya, atau tempat-tempat bersejarah tetapi juga kerajaan-kerajaan yang namanya dipinjam dari Mahabharata. Demikian pula relief-relief Borobudur tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui risalah-risalah India tentang Mahayana. Namun demikian tak mungkin antara keduanya, yaitu Jawa dan India disamakan.[2]
B.     Kepercayaan Jawa pada Masa Hindu Budha
Kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular berisikan pesan keagamaan yang digubah dari boddhakawya sehingga berkesan bahwa ia adalah seorang boddha, yang memuja istadewata atau Adi-Budha. Namun, dalam Kakawin lain Uttarakanda yang ditulisnya, jelas merupakan pemujaan kepada Dewa Wisnu. Yang lebih rumit lagi, istadewata yang dimaksud adalah Sri Parwatarajadewa yang berarti Dewa Raja Gunung, yaitu Dewa Siwa yang dalam mitologi India adalah menantu Himalaya. Tradisi pemujaan gunung keramat di Jawa agaknya merupakan kepercayaan pada kekeramatan tempat-tempat tinggi yang ada hubungannya dengan pemujaan arwah nenek moyang yang terdapat sejak lama di Asia Tenggara pada umumnya, sebelum kedatangan agama Hindu-Budha di pulau Jawa.
Demikianlah Dewa Raja Gunung yang dimaksud agaknya adalah dewa resmi kerajaan Majapahit. Dia bukan Siwa, bukan pula Budha, tetapi adalah Siwa-Budha, pelindung dari Yang Mutlak (natha nina anatha), Raja dari segala Raja Dunia (Pati ning Jagatpati), dan Dewa dari segala istadewata (sang hyang ning hyang inisti). Dalam pantheon, kerajaan Siwa dan Budha dianggap sama.
...tan hana bheda sang hyang/
Hyang Budha rakwa kalawan Siwa rajadewa/
Kalih samwka sira pinakesti-dharma (Arjunawijaya 27:2)
...taka ada perbedaan antara Dewa-Dewa tersebut/
Hyang Budha sama dengan Siwa, raja segala Dewa/
Keduanya itu sama, keduanya merupakan tujuan dharma
Masyarakat Jawa mempunyai toleransi keagamaan yang sangat besar. Mereka menganggap sepadan antara Budha dan para Jina lainnya dengan Siwa dan para dewa lain. Mereka mempercayai dalam kisah pertempuran antara Porusada dengan Sutasoma, bahwa Porusada telah berubah menjadi Maharudra atau Siwa, lalu ia marah dan menampakkan dirinya menjadi Kala, yaitu api yang akan membakar dunia. Cemas akan terjadi kebinasaan dunia sebelum waktunya, para dewa turun dan membujuk Siwa, dengan menenangkan bahwa Siwa tak mungkin mengalahkan Sutasoma yang merupakan penjelmaan Budha. Karena walaupun Siwa dan Budha adalah dua substansi (anekadhatu) yang berlainan, tetapi tidak mungkin keduanya dipisahkan. Dalam praktek keagamaannya, seorang pengikut agama Siwa ataupun Budha haruslah mengetahui kedua jalan atau yoga. Artinya seorang pendeta Budha akan gagal (tiwas) kalau tidak mengetahui jalan kesiwaan, begitu pula sebaliknya. Karena jalan yang harus dilalui untuk menyembah Hyang Agung  adalah seperti jalan menuju puncak gunung yang dapat dicapai dari segenap penjuru.
...Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal/
Bhineka tunggal ika tan hana darma mangarwa (Sutasoma 139)
Pada hakekatnya yang paling dalam Budha dan Siwa adalah satu/
Keduanya itu berbeda, tetapi itu satu, tak ada dharma yang mendua
Kepercayaan keagamaan masyarakat Jawa yang terungkap melalui kakawin pada saat tertentu tampak berkembang dalam proses evolusi yang lamban. Namun, yang pasti adalah bahwa kedua ideologi yang baru, baik Hindu maupun Budha, rupanya di Jawa lebih rukun antara satu dengan yang lain daripada di India.[3]
C.    Budaya Jawa pada Masa Hindu-Budha
Pada jaman pra-Hindu, kontak sosial (perdagangan) masyarakat Indonesia dengan India, Arab, Cina, dan Persia terus berkembang. Dikarenakan pulau-pulau Indonesia bagian barat selain terletak di jalur perdagangan dari Asia selatan ke Asia Timur merupakan daerah penghasil rempah-rempah, emas, kayu manis, dan produk-produk lain yang diminati di dunia perdagangan. Kondisi yang demikian strategis itu menjadikan pangeran-pangeran lokal berkenalan dengan pandangan-pandangan politik dan religius luar, terutama India.
Penyerapan kebudayaan Hindu-Budha dari India itu kemudian membawa penduduk negeri ini semakin masuk ke dalam wilayah pancaran kebudayaan India. Tercatat di Sumatera selatan Kerajaan Sriwijaya yang merupakan kerajaan pantai dengan pengaruh yang cukup besar. Kerajaan ini menganut ajaran Budhisme Hinayana dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-7M. Di antara pangeran-pangeran lokal, muncul raja-raja yang lebih kuat yang dapat memperluas kedaulatannya sampai ke daerah yang lebih luas. Sanjaya, raja Mataram, di wilayah Yogyakarta sekarang, menguasai seluruh Jawa Tengah pada permulaan abad ke-8 M. Raja ini menganut agama Syiwa dan dia berhasil membangun kompleks candi Syiwa di dataran tinggi Dieng.
Kekuasaan Sanjaya hilang, muncul Dinasti Syailendra yang memeluk agama Budha Mahayana. Syailendra berkuasa kurang lebih selama 60 tahun di sebelah barat Yogyakarta, tepatnya di daerah Magelang. Peninggalan paling bersejarah Dinasti Syailendra adalah candi Borobudur. Candi ini dibangun menurut tradisi Jawa Kuno sebagai candi yang berteras dan melambangkan alam raya. Teras-teras paling bawah dihiasi dengan ukiran-ukiran dari alam kepercayaan Budhisme Mahayana. Di teras-teras berikutnya, hingga ke teras paling tinngi, orang akan diajak masuk ke wilayah yang tanpa gambar yang melambangkan pencapaian terang batin dan suasana kebudhaan.
Borobudur juga merupakan kesaksian yang pertama bagi kemampuan kebudayaan Jawa dalam mengambil alih agama-agama atau kebudayaan lain untuk diabdikan bagi kepentingan-kepentingannya sendiri, dalam artian untuk menjawakannya. Tendensi jawanisasi juga nampak dalam penggantian bahasa Sanskerta dengan bahasa Jawa Kuno dan dalam perkembangan huruf-huruf Jawa yang diyakini dimulai sejak saat itu.
Diperkirakan pada akhir abad 8 M, atau awal abad 9 M, penguasa Jawa Tengah yang menamakan diri raja Mataram menganut agama Siwa. Peninggalan terbesar atas kepenganutan agama mereka adalah kompleks candi Lorojonggrang di daerah Prambanan, sebelah timur Yogyakarta. Bangunan candi Lorojonggrang terdiri dari tiga bangunan candi utama yang diperuntukkan bagi dewa Brahma, Siwa, dan Wisnu. Ukiran-ukiran candi Syiwa diambil dari kisah Ramayana, sedangkan candi Lorojonggrang dimaksudkan sebagai tempat pemakaman bagi raja-raja Mataram. Fungsi candi itu adalah sebagai pemakaman dan candi kerajaan, yang menandakan kekhasan Hinduisme dan Budhisme yang hidup dan berkembang dalam kebudayaan Jawa saat itu.[4]
Pada dasarnya budaya di masa Hindu-Budha merupakan manifestasi kepercayaan Jawa Hindu-Budha semenjak datangnya Hindu-Budha di tanah Jawa. Kegiatan tersebut berupa upacara, tradisi yang sebagian masih dapat dilihat keberadaannya sampai saat ini. Upacara tersebut dilakukan untuk memperoleh kesejahteraan dari para Dewa.
Di masa Majapahit para agamawan melaksanakan ritual kerajaan dengan baik, dan menjaga candi-candi yang kebanyakan merupakan tempat pemujaan leluhur raja.
Ritual lainnya di Jawa maupun di Pasundan untuk memperoleh kesejahteraan ekonomis adalah upacara wiwit (permulaan musim tanam) yang diwujudkan pada pemujaan dewi padi, Dewi Sri. Pemujaan terhadap Dewi Sri dewasa ini masih terus dilangsungkan oleh para petani di desa untuk mendapatkan hasil panen yang baik. Doa ditujukan kepada tokoh Sri yang menjelma menjadi padi. Jikalau orang hendak menuai padi yang telah menguning, sebelumnya beberapa bulir padi dipungut dan dibentuk seperti dua orang (lambang sepasang pengantin) yang dipertemukan dan diarak pulang. Diharapkan nantinya sepasang pengantin padi akan mendatangkan panen yang baik. Petani akan mempersembahkan ikatan-ikatan padi pertama yang disimpan dengan hidmat sampai masa penebaran benih tahun berikutnya.
Upacara lain yang sangat penting adalah pagelaran wayang kulit. Bukti tertua tentang wayang kulit berasal dari abad ke-10, berupa prasasti Bali yang menyebut digelarkannya sebuah lakon kelahiran Bima (Bima bungkus) yang kadang-kadang masih dipertunjukkan dewasa ini. Peran wiracarita-wiracarita India atas lakon-lakon wayang kulit besar sekali. Kebanyakan tokoh dan sejumlah besar lakon diambil dari Ramayana dan Mahabharata. Wayang hanya terdapat di Jawa dan daerah-daerah Nusantara yang tersentuh kebudayaan Jawa itu.
Ciri lain yang menunjukkan bahwa pagelaran wayang sesungguhnya merupakan suatu upacara adalah lamanya pagelaran. Setiap pemanggilan arwah harus mengikuti irama kosmis dan berlangsung semalam suntuk, dari saat matahari terbenam sampai matahari terbit. Waktu menjelang malam hari atau sandikala, yaitu saat tenggelamnya matahari, dipakai untuk menempatkan alat-alat dan mengucapkan mantera-mantera dari depan kelir sambil mengheningkan cipta. Dalang membakar dupa untuk menyenangkan para arwah. Para niyaga yang akan mengiringinya dengan gamelan duduk di dekat alat mereka dan mulai memainkannya dengan pelan. Pertunjukan yang sebenarnya baru mulai setelah malam sampai fajar menyingsing. Menjelang tengah malam, saat yang menentukan, dalang menggambarkan kekacauan alam yang (gara-gara), semacam keributan kosmos yang kemudian mereda. Pada waktu lakon berakhir pada dini hari, keseimbangan atau keselarasan kosmos akhirnya pulih. Dalang menandainya dengan manancapkan sebuah kayon (dari kata kayu), yaitu sebuah wayang dengan bentuk pohon kehidupan yang juga dinamakan gunungan, di tengah-tengah kelir.[5]
D.    Keagamaan orang Jawa pada zaman Hindu-Budha
Masuknya Bangsa India yang membawa agama dan peradaban baru diterima dan berkembang menjadi bagian kehidupan masyarakat Jawa. Masuknya agama Hindu-Budha bersamaan dengan munculnya sistem kerajaan, yang diperkenalkan oleh kaum brahmana India, serta untuk memperkenalkan peradaban intelektual serta kesejahteraan Hindu di kalangan istana. Para Brahmana bertindak sebagai penasehat kerajaan, memberi petunjuk mengenai sistem organisasi dan upacara kerajaan sebagai sendi dasar sebuah kerajaan.
Pengaruh Hindu-Budha untuk beberapa abad, yang sudah meninggalkan warisan-warisan budaya, berupa sistem pemerintah, tempat-tempat pemujaan, dan upacara-upacara keagamaan sangatlah kuat. Tradisi dan budaya Jawa mulai berpadu dan mengadopsi budaya India tersebut, agama menjadi pendukung kekuasaan, pengkultusan Dewa-Raja (raja titisan dewa), raja menjadi pusat pengabdian dan penyembahan. Kerajaan menempatkan nilai-nilai agama sebagai sesuatu yang sakral, tradisi kerajaan yang menempatkan agama sebagai sendi dasar ini semakin membuat wibawa dan keramatnya sebuah kerajaan, sehingga pihak istana mendapat perlakuan yang istimewa dari semua kalangan.
Kebudayaan Jawa menerima pengaruh Hindu-Budha tidaklah membuat jati dirinya hilang atau musnah, justru yang terjadi adalah kebangkitan budaya Jawa dengan memanfaatkan unsur-unsur agama Hindu-Budha. Agama Hindu dan Budha berhasil diserap dan dicerna, atau bahkan di-Jawakan (Simuh, 1996:115). Lahirlah agama atau kepercayaan Hindu-Kejawen, Budha Kejawen, yang merupakan bentuk-bentuk kepercayaan yang dipraktekan oleh pihak kerajaan dan diteruskan kepada masyarakat. Kerajaan-kerajaan Hindu Kejawen atau Budha-Kejawen inilah yang membuat semakin kuatnya tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa, yang serba animis-dinamis.[6]
IV. KESIMPULAN
Terdapat tiga petunjuk untuk menapresiasi bagaimana persentuhan agama hindu, yang telah meresap dalam mentalitas budaya masyarakat Jawa.
1.      asal-usul suku bangsa Jawa yang dijelaskan oleh C. C. Berg dalam bentuk legenda tentang seorang bernama Aji Saka.
2.      Kedua, penafsiran indianisasi lain, yang kurang bersifat historis diberikan dalam naskah Jawa abad 16, Tantu Panggelaran yang merupakan sejenis buku petunjuk pertapaan-pertapaan Hindu di Jawa.
3.      Ketiga, sebagai kelanjutan dari teori mutasi tecatat bahwa banyak nama tempat di pulau Jawa yang berasal dari bahasa Sanskerta, yang membuktikan adanya kehendak untuk menciptakan kembali geografi India yang dianggap keramat.
Masyarakat Jawa mempunyai toleransi keagamaan yang sangat besar. Mereka menganggap sepadan antara Budha dan para Jina lainnya dengan Siwa dan para dewa lain. walaupun Siwa dan Budha adalah dua substansi (anekadhatu) yang berlainan, tetapi tidak mungkin keduanya dipisahkan. Dalam praktek keagamaannya, seorang pengikut agama Siwa ataupun Budha haruslah mengetahui kedua jalan atau yoga.
Penyerapan kebudayaan Hindu-Budha dari India membawa penduduk negeri ini terutama penduduk pulau Jawa semakin masuk ke dalam wilayah pancaran kebudayaan India. Kebudayaan yang terserap seperti pagelaran wayang kulit dan berbagia ritual keagaamaan yang dilakukan oleh kerajaan.
Masuknya agama Hindu-Budha bersamaan dengan munculnya sistem kerajaan, yang diperkenalkan oleh kaum brahmana India. Agama Hindu dan Budha berhasil diserap dan dicerna, atau bahkan di-Jawakan. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya agama atau kepercayaan Hindu-Kejawen, Budha Kejawen. Yang mana merupakan bentuk-bentuk kepercayaan yang dipraktekan oleh pihak kerajaan dan diteruskan kepada masyarakat.


V.    PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami susun, kami menyadari bahwa makalah kami masih banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan demi penyempurnaan makalah selanjutnya. Harapan kami, dengan disusunnya makalah ini, pembaca maupun pendengar dapat memahami materi yang disampaikan, sehingga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin….




DAFTAR PUSTAKA
Amin Darori, Islam & Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: GAMA MEDIA, 2000.
Khalil Ahmad, Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa, Malang: UIN Malang Press,2008
Khalim Samidi, Islam & Spiritualitas Jawa, Semarang: RaSAIL Media Group, 2008