PENINGGALAN ISLAM
DAN
KEPURBAKALAAN
PENINGGALAN BUDHA
I.
PENDAHULUAN
Indonesia sebagai
negara yang kaya akan budaya memiliki banyak peninggalan sejarah. Diantaranya
ialah peninggalan budaya Budha dan Islam di pulau Jawa. Bukti peninggalan budaya
tersebut dapat berupa Candi Budha, patung-patung, Masjid dan lainnya. Akan
tetapi di zaman post modern ini tidak sedikit masyarakat Jawa yang tidak tahu
peninggalan sejarah kebudayaannya. Terutama para kaum muda yang kurang
mencintai situs-situs peninggalan sejarah.
Padahal sebagai orang Jawa
juga kita wajib untuk mengetahui sejarah peninggalan tersebut. Bagaimana
filosofi suatu situs peninggalan sejarah dan perkembangannya. Kita juga harus
bisa menjaga situs peninggalan sejarah agar tetap terjaga kelestariannya. Bahkan
juga harus bisa memperkenalkan situs peninggalan sejarah ke ranah
Internasional.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa
saja Situs Peninggalan Islam Jawa yang ada di Museum Ronggowarsito?
B. Apa
saja Situs Peninggalan Budha yang ada di Museum Ronggowarsito?
III. HASIL PENGAMATAN di MUSEUM RONGGOWARSITO
A. Situs
Peninggalan Islam Jawa yang ada di Museum Ronggowarsito
1.
Menara Masjid Kudus
Menara Masjid Kudus
Menara ini berada satu
komplek dengan Masjid Kudus yang terletak di depan sisi kanan Masjid.
Arsitekturnya mengacu pada bangunan Pura (seperti di Bali). Tinggi menara Masjid
18 Meter. Menara didirikan bersamaan dengan Masjid Kudus pada abad ke XVI M.
Masjid Kudus terletak di Desa Kauman, Kabupaten Kudus.
2. Mimbar
Masjid Ki Ageng Selo
Adanya mimbar ini
adalah sebagai wujud dari rasa penghormatan terhadap leluhurnya. Kraton
Surakarta telah membangun masjid dan memberi mimbar Khotbah di kompleks
pemakaman Ki Ageng Selo. Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah prasasti
bertuliskan Arab pegon sekitar abad ke 17. Lambang kebesaran Kraton Surakarta
terukir pada di bagian atas mimbar. Mimbar ini dipakai oleh Khotib ketika
membacakan Khotbah. Mimbar Masjid Ki Ageng Selo berasal dari Grobogan.
B. Situs
Peninggalan Budha yang ada di Museum Ronggowarsito
1. Kerajaan
Mataram dan Candi Borobudur
Asumsi terdahulu
menyebutkan bahwa longsornya Merapi dan letusannya yang menyebabkan perpindahan
Kerajaan Hindu Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Lobberton (1992) dan
Bemmelen (1949) juga berasumsi bahwa letusan tahun 1006 telah mengakibatkan
perpindahan Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur. Lebih lanjut Bemmelen (1949)
menghubungkan letusan tersebut dengan runtuhnya bagian puncak Merapi ke arah
barat. Dijelaskan bahwa letusan besar tahun 1006 terjadi akibat pergerakan
tektonik sepanjang jalur transversal yang menjadi dasar deretan Gunung Api Ungaran
– Merapi.
Diperkirakan gempa
menyertai pergerakan tersebut dan merusak sebagian Candi Borobudur dan Mendut
yang dibangun pada abad ke-9, aktivitas tektonik ini diikuti dengan terjadinya
longsoran Merapi dan letusan besar yang produk letusannya diperkirakan menutup
candi-candi tersebut, merusak Kerajaan Mataram Hindu Kuno di Jawa Tengah, dan
membendung aliran Kali Progo. Longsoran tersebut membentuk Perbukitan Gandol
yang terletak di bagian barat Merapi.
2.
Replika
Candi Borobudur
Replika
Candi Borobudur![]() |
3. Kemuncak
Candi
Puncak
mastaka atau kemuncak candi merupakan bagian atap candi yang paling atas.
Bentuk kemencak berbagai macam, seperti bunga/ratna, stupa maupun modifikasi
vajra/kilat/halilintar.
4. Arca
Budha
a. Dhyani
Budha Vajrasatwa
Digambarkan
duduk di atas alas berbentuk padma di atas bangku tanpa sandaran dengan ke
empat sudutnya ditopang arca singa. Istimewa: ada pada bagian belakang tempat
duduk arca yang terdapat prasasti dengan huruf dan bahasa sansekerta.
b. Dhyani
Budha Vairosyana
Digambarkan
dengan Budha duduk bersila dengan sikap tangan mengajar (tiga jari) atau sikap
vitar kamudra.
c. Dhyani
Budha Amogashidi
Digambarkan
dengan Budha duduk bersila dengan sikap tangan menentramkan (empat jari) atau
sikap abhayamudra.
d. Dhyani
Budha Amitabha
Digambarkan
dengan Budha bersila dengan tangan bersemedi atau dhyanamudra.
e. Dhyani
Budha Ratnasambhawa
Digambarkan
dengan Budha bersila dengan tangan memberi anugerah atau varamudra.
f. Dhyani
Budha Aksobhya
Digambarkan
dengan Budha dengan sikap tangan menyinggung tanah atau bhumi sparsyamudra
![]() |
![]() |
![]() |
Dhyani Budha Amogasidhi Dhyani Budha
Amitabha
Dhyani Budha
Ratnasambhawa
IV. ANALISIS BUDAYA JAWA
Budaya Jawa merupakan
budaya yang sangat unik dan menarik untuk dikaji. Mengapa demikian ? Karena
budaya Jawa lahir dan terbentuk dari berbagai ranah. Dari sudut agama, budaya
jawa lahir dari berbagai agama yang ada di Indonesia hingga saat ini, antara
lain, Islam, budha dan hindu. Telah kita ketahui bersama bahwa agama-agama
tersebut tidak berasal dari Jawa. Melainkan dari negara-negara seperti India
dan Arab. Sehingga budaya-budaya yang ada dalam negara-negara tersebut secara
otomatis mengalir dalam budaya Jawa seiring berjalannya waktu. Pengaruh budaya tersebut dapat dilihat dengan
berbagai aspek. Seperti bangunan arsitektur ( miniatur masjid, prasasti, candi,
makam ) ataupun bahasa yang sedikit tidaknya terpengaruh karena perpaduan itu. Tentunya,
perpaduan budaya ini akan lebih terspesifikasi dalam budaya Jawa.
Budaya jawa yang sangat
beragam ini merupakan aset bangsa yang sangat penting. Karena pada hakikatnya
budaya jawa memiliki ciri khas tersendiri dari budaya lain yang ada di
Indonesia.
V. KESIMPULAN
Berbagai miniatur situs
peninggalan sejarah Budha dan Islam di jawa tentunya untuk membuat masyarakat, Jawa
khususnya mengetahui tentang sejarah budayanya. Tujuan lain yaitu agar mereka
mencintai budaya jawa dan bisa bersikap saling toleran.




No comments:
Post a Comment