KEBUDAYAAN
JAWA MASA HINDU-BUDHA
I. PENDAHULUAN
Masyarakat Jawa atau tepatnya suku
bangsa Jawa, secara antropologi budaya adalah orang-orang yang dalam hidup
kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai ragam dialeknya secara
turun temurun.[1]
Dan sebagai masyarakat jawa yang penuh
dengan nilai religi dan budaya sudah seharusnya kita mengetahui pasti tentang
kebudayaan yang ada di pulau Jawa. Berbagai budaya yang menarik perlu kita budayakan. Salah satu contoh
budaya yang masih sering orang jawa pertahankan adalah sekaten. Di zaman modern
sekarang ini masih juga kita lihat berbagai budaya pada zaman hindu budha yang
kirannya masih bertahan. Islam memang sudah lama masuk ke pulau Jawa. Akan
tetapi budaya Hindu Budha nampaknya masih melekat erat pada masyarakat jawa.
Misalnya
saja budaya sedekah bumi sebagai perwujudan syukur atas rizki yang telah
diberikan. Atau juga sedekah yang orang jawa bilang dengan istilah bancaan
ketika ingin menanam berbagai jenis tanaman di ladang mereka.
Kebudayaan
Hindu Budha yang sekarang masih melekat pada masyarakat jawa tidak tiba-tiba
muncul begitu saja. Masuknya Hindu Budha ke pulau Jawa juga mengalami proses dan sejarah panjang.
Dimana tadinya masyarakat Jawa yang masih berkepercayaan animisme dinamisme,
mulai beralih ke agama Hindu Budha.
Agama Hindu
Budha itu sendiri merupakan agama yang berasal dari Negara India. Agama hindu
mempercayai dewa sebagai pengatur kehidupan. Ada tiga dewa besar dalam agama
hindu, yaitu Brahmana, Wisnu dan Siwa. Dewa Brahmana sebagai pencipta, Dewa
Wisnu pelindung dan Dewa Siwa perusak. Kitab suci agama Hindu ialah weda.
Sedangkan agama Budha pertama diajarkan oleh Shidarta Gautama. Yang mana kitab
sucinya adalah tripitaka.
Itulah
sekilas mengenai masyarakat Jawa, dan juga agama Hindu Budha. Untuk lebih
lanjutnya tentang bagaimana sejarah masuknya agama Hindu Budha dan kondisi
masyarakat masa itu akan dibahas pada makalah ini.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana
Sejarah Masuknya Hindu yang Pertama di Jawa?
B. Bagaimana
Kepercayaan Jawa pada Masa Hindu Budha?
C. Bagaimana
Kebudayaan Jawa pada Masa Hindu Budha?
D. Bagaimana
Keagamaan Orang Jawa pada Zaman Hindu-Budha?
III. PEMBAHASAN MASALAH
A. Sejarah
Masuknya Hindu yang Pertama di Jawa
Sejarah mencatat bahwa di Jawa pernah mengalami
“mutasi pertama” atau lebih tepatnya disebut indianisasi. Sebenarnya
kemungkinan adanya pengaruh India tidak pernah terdeteksi oleh para peneliti
Eropa sebelum awal abad ke-19. Raffles mengangkat indianisasi menjadi topik
yang menarik dengan mengaitkan antara Jawa dan India. Gagasan Indianisasi ini
dilanjutkan oleh para peneliti Belanda yang lain, yaitu J. L. A. Brandes
(1957-1905), H. Kern (1833-1917), N. j. Krom (1883-1945), dan W. F. Stutterheim
(1892-1942). Mereka berjasa dalam menginterpretasikan masa lampau Jawa
berdasarkan pengetahuan tentang India kuno. Sekarang perlu dipertanyakan apakah
tradisi Jawa masih menyimpan bekas-bekas persentuhan dengan Hindu atau India.
Terdapat paling sedikit tiga petunjuk untuk menapresiasi bagaimana persentuhan
budaya tersebut, yang telah meresap dalam mentalitas masyarakat Jawa.
Pertama,
asal-usul suku bangsa Jawa yang dijelaskan oleh C. C. Berg dalam bentuk legenda
tentang seorang bernama Aji Saka. Ia dikisahkan sebagai seorang muda putra
Brahmana yang berasal dari tanah India. Aji Saka datang di tanah Jawa, dan
mendapatkan sebuah negeri dengan nama Medangkamulan, yang kini berada di daerah
Grobogan, Purwodadi. Negeri ini dikuasai oleh seorang raja pemakan daging
manusia yang bernama Dewatacengkar. Aji Saka menawarkan diri menjadi makanan
raja dengan syarat ia akan menerima satu bidang tanah seluas destarnya sebagai ganti. Si pemakan
daging manusia alias
Dewatacengkar menerima syarat ini dengan senang hati, tetapi ia
terkejut karena destar milik Aji Saka semakin lama semakin lebar, bahkan
akhirnya menutupi seluruh wilayah kerajaannya. Ia menerima kekalahannya dengan
mengundurkan diri, serta menyerahkan kekuasaannya kepada Aji Saka pada tahun 78
Masehi.
Menurut C. C. Berg legenda di atas menjadi
simbolisme atau lambang yang dipergunakan oleh nenek moyang orang jawa untuk
memudahkan ingatan perhitungan awal tarikh Jawa, yaitu tarikh Saka. Hitungan
ini diawali dengan runtuhnya kepercayaan animisme karena masuknya pengaruh
Hindu di Jawa. Demikian pula syair tentang kematian dua orang pengiring Aji
Saka, menjadi suatu simbolisme yang mempermudah ingatan terhadap susunan abjad
Jawa.
Kedua,
penafsiran indianisasi yang lain, yang kurang bersifat historis diberikan dalam
naskah Jawa abad 16, Tantu Panggelaran
yang merupakan sejenis buku petunjuk pertapaan-pertapaan Hindu di Jawa. Tulisan
itu menjelaskan tentang asal mula Bhatara Guru (siwa)
yang pergi ke Gunung Dieng untuk bersemedi dan meminta kepada Brahma dan Wisnu
supaya Pulau Jawa diberi penghuni. Brahma menciptakan kaum lelaki dan Wisnu
kaum perempuan, lalu semua dewa memutuskan untuk menetap di bumi baru kemudian memindahkan
Gunung Meru yang sampai saat itu terletak di Negeri Jambudvipa atau di India.
Sejak saat itu gunung tinggi yang menjadi lingga dunia (pinkalalingganingbhuwana) atau pusat dunia itu tertanam di Jawa dan
pulau Jawa menjadi kesayangan dewata.
Ketiga, sebagai
kelanjutan dari teori mutasi perlu dicatat bahwa banyak nama tempat di pulau
Jawa yang berasal dari bahasa Sanskerta, yang membuktikan adanya kehendak untuk
menciptakan kembali geografi India yang dianggap keramat itu. Bukan hanya
gunung-gunungnya, atau
tempat-tempat bersejarah tetapi juga kerajaan-kerajaan yang
namanya dipinjam dari Mahabharata. Demikian pula relief-relief Borobudur tidak
dapat ditafsirkan tanpa mengetahui risalah-risalah India tentang Mahayana.
Namun demikian tak mungkin antara keduanya, yaitu Jawa dan India disamakan.[2]
B. Kepercayaan
Jawa pada Masa Hindu Budha
Kakawin Sutasoma
yang ditulis oleh Mpu Tantular berisikan pesan keagamaan yang digubah dari boddhakawya sehingga berkesan bahwa ia
adalah seorang boddha, yang memuja istadewata
atau Adi-Budha. Namun, dalam Kakawin lain Uttarakanda
yang ditulisnya, jelas merupakan pemujaan kepada Dewa Wisnu. Yang lebih rumit
lagi, istadewata yang dimaksud adalah Sri Parwatarajadewa yang berarti Dewa
Raja Gunung, yaitu Dewa Siwa yang dalam mitologi India adalah menantu Himalaya.
Tradisi pemujaan gunung keramat di Jawa agaknya merupakan kepercayaan pada
kekeramatan tempat-tempat tinggi yang ada hubungannya dengan pemujaan arwah
nenek moyang yang terdapat sejak lama di Asia Tenggara pada umumnya, sebelum
kedatangan agama Hindu-Budha di pulau Jawa.
Demikianlah Dewa Raja Gunung yang dimaksud agaknya
adalah dewa resmi kerajaan Majapahit. Dia bukan Siwa, bukan pula Budha, tetapi
adalah Siwa-Budha, pelindung dari Yang Mutlak (natha nina anatha), Raja dari segala Raja Dunia (Pati ning Jagatpati), dan Dewa dari
segala istadewata (sang hyang ning hyang
inisti). Dalam pantheon, kerajaan Siwa dan Budha dianggap sama.
...tan hana bheda sang hyang/
Hyang Budha rakwa kalawan Siwa rajadewa/
Kalih samwka sira pinakesti-dharma
(Arjunawijaya 27:2)
...taka ada perbedaan antara Dewa-Dewa
tersebut/
Hyang Budha sama dengan Siwa, raja
segala Dewa/
Keduanya itu sama, keduanya merupakan
tujuan dharma
Masyarakat Jawa mempunyai toleransi
keagamaan yang sangat besar. Mereka menganggap sepadan antara Budha dan para
Jina lainnya dengan Siwa dan para dewa lain. Mereka mempercayai dalam kisah
pertempuran antara Porusada dengan Sutasoma, bahwa Porusada telah berubah
menjadi Maharudra atau Siwa, lalu ia marah dan menampakkan dirinya menjadi
Kala, yaitu api yang akan membakar dunia. Cemas akan terjadi kebinasaan dunia
sebelum waktunya, para dewa turun dan membujuk Siwa, dengan menenangkan bahwa
Siwa tak mungkin mengalahkan Sutasoma yang merupakan penjelmaan Budha. Karena
walaupun Siwa dan Budha adalah dua substansi (anekadhatu) yang berlainan, tetapi tidak mungkin keduanya
dipisahkan. Dalam praktek keagamaannya, seorang pengikut agama Siwa ataupun
Budha haruslah mengetahui kedua jalan atau yoga. Artinya seorang pendeta Budha
akan gagal (tiwas) kalau tidak
mengetahui jalan kesiwaan, begitu pula sebaliknya. Karena jalan yang harus
dilalui untuk menyembah Hyang Agung
adalah seperti jalan menuju puncak gunung yang dapat dicapai dari
segenap penjuru.
...Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal/
Bhineka tunggal ika tan hana darma
mangarwa (Sutasoma 139)
Pada hakekatnya yang paling dalam Budha
dan Siwa adalah satu/
Keduanya itu berbeda, tetapi itu satu,
tak ada dharma yang mendua
Kepercayaan keagamaan masyarakat Jawa
yang terungkap melalui kakawin pada saat tertentu tampak berkembang dalam
proses evolusi yang lamban. Namun, yang pasti adalah bahwa kedua ideologi yang
baru, baik Hindu maupun Budha, rupanya di Jawa lebih rukun antara satu dengan
yang lain daripada di India.[3]
C. Budaya
Jawa pada Masa Hindu-Budha
Pada jaman pra-Hindu, kontak sosial (perdagangan)
masyarakat Indonesia dengan India, Arab, Cina, dan Persia terus berkembang.
Dikarenakan pulau-pulau Indonesia bagian barat selain terletak di jalur
perdagangan dari Asia selatan ke Asia Timur merupakan daerah penghasil
rempah-rempah, emas, kayu manis, dan produk-produk lain yang diminati di dunia
perdagangan. Kondisi yang demikian strategis itu menjadikan pangeran-pangeran
lokal berkenalan dengan pandangan-pandangan politik dan religius luar, terutama
India.
Penyerapan kebudayaan Hindu-Budha dari India itu
kemudian membawa penduduk negeri ini semakin masuk ke dalam wilayah pancaran
kebudayaan India. Tercatat di Sumatera selatan Kerajaan Sriwijaya yang
merupakan kerajaan pantai dengan pengaruh yang cukup besar. Kerajaan ini
menganut ajaran Budhisme Hinayana dan mencapai puncak kejayaannya pada abad
ke-7M. Di antara pangeran-pangeran lokal, muncul raja-raja yang lebih kuat yang
dapat memperluas kedaulatannya sampai ke daerah yang lebih luas. Sanjaya, raja
Mataram, di wilayah Yogyakarta sekarang, menguasai seluruh Jawa Tengah pada
permulaan abad ke-8 M. Raja ini menganut agama Syiwa dan dia berhasil membangun
kompleks candi Syiwa di dataran tinggi Dieng.
Kekuasaan Sanjaya hilang, muncul Dinasti Syailendra
yang memeluk agama Budha Mahayana. Syailendra berkuasa kurang lebih selama 60
tahun di sebelah barat Yogyakarta, tepatnya di daerah Magelang. Peninggalan
paling bersejarah Dinasti Syailendra adalah candi Borobudur. Candi ini dibangun
menurut tradisi Jawa Kuno sebagai candi yang berteras dan melambangkan alam
raya. Teras-teras paling bawah dihiasi dengan ukiran-ukiran dari alam
kepercayaan Budhisme Mahayana. Di teras-teras berikutnya, hingga ke teras
paling tinngi, orang akan diajak masuk ke wilayah yang tanpa gambar yang
melambangkan pencapaian terang batin dan suasana kebudhaan.
Borobudur juga merupakan kesaksian yang pertama bagi
kemampuan kebudayaan Jawa dalam mengambil alih agama-agama atau kebudayaan lain
untuk diabdikan bagi kepentingan-kepentingannya sendiri, dalam artian untuk
menjawakannya. Tendensi jawanisasi juga nampak dalam penggantian bahasa
Sanskerta dengan bahasa Jawa Kuno dan dalam perkembangan huruf-huruf Jawa yang
diyakini dimulai sejak saat itu.
Diperkirakan pada akhir abad 8 M, atau awal abad 9
M, penguasa Jawa Tengah yang menamakan diri raja Mataram menganut agama Siwa.
Peninggalan terbesar atas kepenganutan agama mereka adalah kompleks candi
Lorojonggrang di daerah Prambanan, sebelah timur Yogyakarta. Bangunan candi
Lorojonggrang terdiri dari tiga bangunan candi utama yang diperuntukkan bagi
dewa Brahma, Siwa, dan Wisnu. Ukiran-ukiran candi Syiwa diambil dari kisah
Ramayana, sedangkan candi Lorojonggrang dimaksudkan sebagai tempat pemakaman
bagi raja-raja Mataram. Fungsi candi itu adalah sebagai pemakaman dan candi
kerajaan, yang menandakan kekhasan Hinduisme dan Budhisme yang hidup dan
berkembang dalam kebudayaan Jawa saat itu.[4]
Pada dasarnya budaya di masa Hindu-Budha merupakan
manifestasi kepercayaan Jawa Hindu-Budha semenjak datangnya Hindu-Budha di
tanah Jawa. Kegiatan tersebut berupa upacara, tradisi yang sebagian masih dapat
dilihat keberadaannya sampai saat ini. Upacara tersebut dilakukan untuk
memperoleh kesejahteraan dari para Dewa.
Di masa Majapahit para agamawan melaksanakan ritual
kerajaan dengan baik, dan menjaga candi-candi yang kebanyakan merupakan tempat
pemujaan leluhur raja.
Ritual lainnya di Jawa maupun di Pasundan untuk
memperoleh kesejahteraan ekonomis adalah upacara wiwit (permulaan musim tanam) yang diwujudkan pada pemujaan dewi
padi, Dewi Sri. Pemujaan terhadap Dewi Sri dewasa ini masih terus dilangsungkan
oleh para petani di desa untuk mendapatkan hasil panen yang baik. Doa ditujukan
kepada tokoh Sri yang menjelma menjadi padi. Jikalau orang hendak menuai padi
yang telah menguning, sebelumnya beberapa bulir padi dipungut dan dibentuk
seperti dua orang (lambang sepasang pengantin) yang dipertemukan dan diarak
pulang. Diharapkan nantinya sepasang pengantin padi akan mendatangkan panen
yang baik. Petani akan mempersembahkan ikatan-ikatan padi pertama yang disimpan
dengan hidmat sampai masa penebaran benih tahun berikutnya.
Upacara lain yang sangat penting adalah pagelaran
wayang kulit. Bukti tertua tentang wayang kulit berasal dari abad ke-10, berupa
prasasti Bali yang menyebut digelarkannya sebuah lakon kelahiran Bima (Bima bungkus) yang kadang-kadang masih
dipertunjukkan dewasa ini. Peran wiracarita-wiracarita India atas lakon-lakon
wayang kulit besar sekali. Kebanyakan tokoh dan sejumlah besar lakon diambil
dari Ramayana dan Mahabharata. Wayang hanya terdapat di Jawa dan daerah-daerah
Nusantara yang tersentuh kebudayaan Jawa itu.
Ciri lain yang menunjukkan bahwa pagelaran wayang
sesungguhnya merupakan suatu upacara adalah lamanya pagelaran. Setiap
pemanggilan arwah harus mengikuti irama kosmis dan berlangsung semalam suntuk,
dari saat matahari terbenam sampai matahari terbit. Waktu menjelang malam hari
atau sandikala, yaitu saat
tenggelamnya matahari, dipakai untuk menempatkan alat-alat dan mengucapkan
mantera-mantera dari depan kelir sambil mengheningkan cipta. Dalang membakar
dupa untuk menyenangkan para arwah. Para niyaga yang akan mengiringinya dengan
gamelan duduk di dekat alat mereka dan mulai memainkannya dengan pelan.
Pertunjukan yang sebenarnya baru mulai setelah malam sampai fajar menyingsing.
Menjelang tengah malam, saat yang menentukan, dalang menggambarkan kekacauan
alam yang (gara-gara), semacam
keributan kosmos yang kemudian mereda. Pada waktu lakon berakhir pada dini
hari, keseimbangan atau keselarasan kosmos akhirnya pulih. Dalang menandainya
dengan manancapkan sebuah kayon (dari
kata kayu), yaitu sebuah wayang dengan bentuk pohon kehidupan yang juga
dinamakan gunungan, di tengah-tengah kelir.[5]
D. Keagamaan
orang Jawa pada zaman Hindu-Budha
Masuknya Bangsa India yang membawa agama dan
peradaban baru diterima dan berkembang menjadi bagian kehidupan masyarakat
Jawa. Masuknya agama Hindu-Budha bersamaan dengan munculnya sistem kerajaan,
yang diperkenalkan oleh kaum brahmana India, serta untuk memperkenalkan
peradaban intelektual serta kesejahteraan Hindu di kalangan istana. Para
Brahmana bertindak sebagai penasehat kerajaan, memberi petunjuk mengenai sistem
organisasi dan upacara kerajaan sebagai sendi dasar sebuah kerajaan.
Pengaruh Hindu-Budha untuk beberapa abad, yang sudah
meninggalkan warisan-warisan budaya, berupa sistem pemerintah, tempat-tempat
pemujaan, dan upacara-upacara keagamaan sangatlah kuat. Tradisi dan budaya Jawa
mulai berpadu dan mengadopsi budaya India tersebut, agama menjadi pendukung
kekuasaan, pengkultusan Dewa-Raja (raja
titisan dewa), raja menjadi pusat pengabdian dan penyembahan. Kerajaan menempatkan
nilai-nilai agama sebagai sesuatu yang sakral, tradisi kerajaan yang
menempatkan agama sebagai sendi dasar ini semakin membuat wibawa dan keramatnya
sebuah kerajaan, sehingga pihak istana mendapat perlakuan yang istimewa dari
semua kalangan.
Kebudayaan Jawa menerima pengaruh Hindu-Budha
tidaklah membuat jati dirinya hilang atau musnah, justru yang terjadi adalah
kebangkitan budaya Jawa dengan memanfaatkan unsur-unsur agama Hindu-Budha.
Agama Hindu dan Budha berhasil diserap dan dicerna, atau bahkan di-Jawakan
(Simuh, 1996:115). Lahirlah agama atau kepercayaan Hindu-Kejawen, Budha
Kejawen, yang merupakan bentuk-bentuk kepercayaan yang dipraktekan oleh pihak
kerajaan dan diteruskan kepada masyarakat. Kerajaan-kerajaan Hindu Kejawen atau
Budha-Kejawen inilah yang membuat semakin kuatnya tradisi dan kepercayaan
masyarakat Jawa, yang serba animis-dinamis.[6]
IV. KESIMPULAN
Terdapat tiga petunjuk untuk menapresiasi bagaimana
persentuhan agama hindu,
yang telah meresap dalam mentalitas budaya masyarakat Jawa.
1.
asal-usul suku bangsa Jawa yang
dijelaskan oleh C. C. Berg dalam bentuk legenda tentang seorang bernama Aji
Saka.
2.
Kedua,
penafsiran indianisasi lain, yang kurang bersifat historis diberikan dalam
naskah Jawa abad 16, Tantu Panggelaran
yang merupakan sejenis buku petunjuk pertapaan-pertapaan Hindu di Jawa.
3.
Ketiga,
sebagai
kelanjutan dari teori mutasi tecatat
bahwa banyak nama tempat di pulau Jawa yang berasal dari bahasa Sanskerta, yang
membuktikan adanya kehendak untuk menciptakan kembali geografi India yang
dianggap keramat.
Masyarakat Jawa mempunyai toleransi keagamaan yang
sangat besar. Mereka menganggap sepadan antara Budha dan para Jina lainnya
dengan Siwa dan para dewa lain. walaupun Siwa dan Budha adalah dua substansi (anekadhatu) yang berlainan, tetapi tidak
mungkin keduanya dipisahkan. Dalam praktek keagamaannya, seorang pengikut agama
Siwa ataupun Budha haruslah mengetahui kedua jalan atau yoga.
Penyerapan kebudayaan Hindu-Budha dari India membawa
penduduk negeri ini terutama
penduduk pulau Jawa semakin masuk ke dalam wilayah pancaran
kebudayaan India.
Kebudayaan yang terserap seperti pagelaran wayang kulit dan berbagia ritual
keagaamaan yang dilakukan oleh kerajaan.
Masuknya agama Hindu-Budha bersamaan dengan
munculnya sistem kerajaan, yang diperkenalkan oleh kaum brahmana India. Agama Hindu dan Budha berhasil
diserap dan dicerna, atau bahkan di-Jawakan. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya agama atau kepercayaan
Hindu-Kejawen, Budha Kejawen.
Yang mana
merupakan bentuk-bentuk kepercayaan yang dipraktekan oleh pihak kerajaan dan
diteruskan kepada masyarakat.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami susun, kami
menyadari bahwa makalah kami masih banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami
butuhkan demi penyempurnaan makalah selanjutnya. Harapan kami, dengan
disusunnya makalah ini, pembaca maupun pendengar dapat memahami materi yang
disampaikan, sehingga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin….
DAFTAR
PUSTAKA
Amin Darori, Islam
& Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: GAMA MEDIA, 2000.
Khalil Ahmad, Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi
Jawa, Malang: UIN Malang Press,2008
Khalim Samidi, Islam & Spiritualitas Jawa, Semarang:
RaSAIL Media Group, 2008
No comments:
Post a Comment